Karier IT di Dunia Programming: Tidak Seseksi Dulu Lagi? 🤔
Beberapa tahun terakhir, ada satu obrolan yang makin sering terdengar di circle developer:
Sekarang kerja di IT rasanya sudah nggak seseksi dulu ya?
Kalimat itu biasanya muncul di tengah diskusi santai, kadang disertai cerita layoff, persaingan yang makin ketat, atau lowongan yang syaratnya terasa semakin “nggak masuk akal”. Dulu, belajar satu framework saja sudah cukup untuk masuk industri. Sekarang, rasanya selalu ada satu skill lagi yang dituntut.
Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti, apalagi mematahkan semangat. Ini adalah refleksi jujur tentang bagaimana karier IT—khususnya programming—berubah dari waktu ke waktu. Kita akan bicara soal kapan masa emas itu terjadi, kenapa sekarang terasa berbeda, dan bagaimana seharusnya menyikapi perubahan besar ini, termasuk kehadiran AI.
Ketika Karier Programming Masih Terasa “Seksi”
Kalau ditarik ke belakang, masa ketika karier programming terasa sangat menjanjikan berada di kisaran 2012 hingga 2021. Di periode ini, industri teknologi tumbuh sangat agresif. Startup bermunculan hampir di setiap sektor, dari e-commerce sampai fintech. Digitalisasi bukan lagi opsi, tapi kebutuhan.
Di masa itu, supply developer jauh di bawah demand. Perusahaan berlomba-lomba mencari engineer, bahkan rela menurunkan standar. Banyak orang tanpa latar belakang IT formal berhasil masuk industri hanya dengan modal kursus singkat dan portofolio sederhana.
Narasi “belajar coding bisa mengubah hidup” bukan sekadar slogan motivasi. Bagi banyak orang, itu nyata.
Puncak Euforia: 2018 – 2020
Jika harus menunjuk satu fase paling panas, maka rentang 2018 sampai 2020 adalah puncaknya. Pendanaan venture capital mengalir deras. Startup merekrut engineer dalam jumlah besar, sering kali lebih cepat daripada kebutuhan bisnis sebenarnya.
Pandemi justru mempercepat segalanya. Hampir semua aktivitas pindah ke digital. Aplikasi, website, dan sistem online menjadi tulang punggung bisnis. Developer berada di posisi yang sangat strategis.
Di titik ini, profesi software developer terasa seperti tiket emas. Gaji naik cepat, tawaran kerja datang bertubi-tubi, dan remote work mulai dianggap normal.
Titik Balik Setelah 2021
Setelah euforia panjang, industri mulai memasuki fase yang lebih realistis. Sejak akhir 2021 hingga 2022, banyak perusahaan teknologi menyadari bahwa mereka merekrut terlalu agresif.
Pertumbuhan tidak selalu sejalan dengan proyeksi. Biaya membengkak, revenue tidak secepat harapan. Layoff pun menjadi kata yang akrab. Data gelombang PHK global di industri teknologi bisa dilihat di https://layoffs.fyi, dan angkanya tidak kecil.
Di sisi lain, jumlah orang yang belajar programming melonjak drastis. Bootcamp, course online, dan konten gratis membuat barrier masuk semakin rendah. Ini hal baik, tapi juga berarti persaingan di level junior menjadi jauh lebih ketat.
Kenapa Sekarang Terasa Lebih Sulit?
Banyak developer merasa dunia IT berubah bukan karena pekerjaannya hilang, tapi karena ekspektasinya berubah. Dulu, cukup jago satu framework frontend atau backend untuk dianggap “siap kerja”. Sekarang, perusahaan mencari orang yang bisa memahami sistem secara utuh.
Skill yang dulu masih ditoleransi—seperti hanya fokus di UI tanpa paham data flow, atau ngoding tanpa mengerti implikasi security—kini menjadi kelemahan serius. Industri bergerak dari sekadar butuh “coder” ke butuh “engineer”.
Survei Stack Overflow Developer Survey (https://survey.stackoverflow.co) juga menunjukkan perubahan ini: developer dengan pemahaman sistem, cloud, dan problem solving cenderung lebih stabil posisinya dibanding yang hanya menguasai satu tool.
Apakah Artinya Karier Programming Tidak Menjanjikan Lagi?
Tidak. Tapi juga tidak sesederhana dulu.
Karier IT sekarang tidak lagi instan. Tidak semua orang yang belajar coding otomatis mendapat pekerjaan bagus. Namun bagi mereka yang mau naik level—memahami arsitektur, bisnis, dan dampak teknis—profesi ini tetap sangat relevan.
Industri ini sedang matang. Dan seperti industri matang lainnya, standar naik, seleksi lebih ketat, dan nilai profesionalisme semakin penting.
Masuknya AI dan Perubahan Peran Developer
Dalam beberapa tahun terakhir, satu faktor besar mempercepat perubahan ini: AI.
Hari ini, backend developer yang dulu kesulitan bikin UI sudah bisa menghasilkan tampilan yang rapi dan menarik dengan bantuan AI. Sebaliknya, frontend developer yang tidak terlalu nyaman dengan backend bisa terbantu membuat API, validasi, bahkan query database.
Muncul pula AI Agent yang mampu menyusun potongan aplikasi secara end-to-end. Dari requirement sederhana, AI bisa membantu membuat struktur project, komponen UI, sampai logic dasar backend.
Ini mengubah dinamika kerja. Bukan berarti semua orang tiba-tiba menjadi fullstack sejati, tapi batas antar peran memang makin kabur.
Risiko di Balik Kemudahan AI
Kemudahan ini punya sisi gelap. Ketika terlalu bergantung pada AI, ada risiko skill inti justru stagnan. Kode bisa jalan, tapi pemahaman di baliknya minim. Debugging jadi sulit. Sistem mudah rapuh.
AI sangat efektif untuk mempercepat pekerjaan, tapi buruk jika dijadikan pengganti berpikir. Developer yang hanya “copy-paste hasil AI” tanpa memahami konteks justru lebih rentan di jangka panjang.
Menggunakan AI dengan Bijak
AI seharusnya diperlakukan seperti senior yang sangat cepat, bukan seperti autopilot. Gunakan AI untuk:
Membantu eksplorasi solusi
Mempercepat boilerplate
Membuka perspektif baru
Tapi tetap pastikan:
Kamu paham apa yang dijalankan
Kamu bisa menjelaskan ulang solusi tersebut
Kamu tahu dampaknya ke sistem
Skill tetap harus tumbuh. AI hanyalah alat.
Karier IT di dunia programming memang tidak seseksi dulu. Masa 2012–2021 adalah anomali yang terlalu indah untuk dijadikan patokan selamanya.
Namun mengatakan bahwa karier ini sudah mati juga tidak tepat. Yang mati adalah jalan pintas dan ekspektasi instan. Yang bertahan adalah profesi engineer yang matang, adaptif, dan sadar akan tanggung jawab teknisnya.
Dengan atau tanpa AI, industri ini akan tetap membutuhkan orang yang benar-benar mengerti sistem. Bukan hanya bisa membuat sesuatu berjalan, tapi paham kenapa dan bagaimana menjaganya tetap aman, stabil, dan bernilai.
Bagi yang siap beradaptasi, karier ini masih panjang. Bagi yang hanya mengejar tren, mungkin memang saatnya berpikir ulang.
Dan itu tidak apa-apa....
